Skip to main content

Posts

Sajak Elegi

Sumber foto : fuji-veong.blogspot.com Sajak Elegi Sembari menunggu awan yang selalu menggantung, entah itu warna hitam yang bisa saja kelak dapat berganti lagi menjadi warna biru, atau mungkin ketika bosan, Tuhan berkeinginan menggantinya lagi ke warna merah dan merefleksikan menjadi warna kuning, Tiada yang tahu apa yang tengah terjadi kecuali hari ini. Ada aku sedang tertawa kecil, lirih. Benar , bukan terjadi kembali kepada diri saya atau kepada mereka si keluarga. Tapi untuknya saja memang, yang tengah berkutat dan tak punya sebuah bandul untuk digantung pada tali besi yang biasanya telah diukur rapi, maka akan ku katakan jika kita ‘pernah sama’. Memang lucu si daging merah yang terletak di tengah dada. Tak ada yang pernah berharap jika benda kecil itu akan luka. Namun keadaan, ternyata sering saja membelahnya menjadi dua. Ah, memang kejam ya, keadaan itu. Tahu bagaimana rasanya? Tak perlulah Kau bahaskan soal rasa yang entah kapan bisa diukur itu. P ernah ...

Sajak - Sajak Galau, Jujur Lebih Baik

Add caption Entah apa yang kami pikirkan. Ketika jam kuliah tidak begitu menarik hati, kami mencoba mengalihkan kebosanan hati dengan bermain kata. Berpura-pura menjadi seorang Sapardi Djoko Darmono, atau sekalian saja, kami berandai menjadi aku si binatang jalang, Chairil Anwar. Lagi pula belajar di dalam ruang Teater rasanya tidak begitu efektif. Aku lebih memikirkan banyak hal ketimbang harus memikirkan pelajaran. Sebelumnya, kami menciptakan permainan sederhana. Aku, sebagai pencetus untuk memberantas kebosanan ini, bergegas mengambil sebuah buku tulis. Lalu menyodorkannya kepada Niswah. Aku memberi aturan main, dan Niswah sepertinya orang yang begitu tanggap. Maka beginilah syair yang telah kami buat bersama. (Beberapanya ada dari Khairul Anwar). Niswah            : Biarkan aku pergi ke Bumantra                     ...